Tapi buku Kabul Beauty School ini berbeda. Buku yang ditulis oleh Deborah Rodrigues (Debbie), seorang wanita berkebangsaan Amerika ini menceritakan tentang pengalaman pribadinya mendirikan sekolah kecantikan pertama di Kabul, ibukota Afghanistan.
Debbie bekerja di salon milik Ibunya di Amerika. Setelah kedatangannya yang pertama kali di Kabul sebagai seorang relawan, Debbie tergerak untuk membuat sekolah kecantikan pertama di Kabul. Kemudian ketika Ia kembali ke Amerika, Ia menghubungi perusahaan-perusahaan kosmetik yang bersedia memberi bantuan berbagai peralatan serta kosmetik yang dibutuhkan untuk sekolahnya. Ia kemudian berhasil mengumpulkan hingga satu kontainer berbagai kosmetik serta kebutuhan salon lainnya.
Berbagai rintangan Ia hadapi termasuk kesulitannya untuk masuk kembali ke Afghanistan tidak membuatnya goyah. Ia berhasil berada kembali di Kabul dan membuka sekolah kecantikannya yang pertama. Banyak perempuan yang mendaftarkan diri, namun sekolah tsb hanya menerima beberapa murid saja yang dinilai telah memiliki basic di bidang kecantikan. Mengajar merupakan satu tantangan tersendiri bagi Debbie. Selain karena dia hanya memahami sedikit sekali perbendaharaan kata dalam bahasa Dari (Bahasa Afghanistan) sehingga Ia memerlukan penerjemah, para muridnya pun agak lambat menerima pelajaran yg diberikannya. Bertahun-tahun mengalami peperangan serta kekerasan yang dilakukan oleh suami atau orangtua mereka membuat para wanita ini tidak bisa cepat menerima pelajaran.
Tidak hanya itu masalah yg dihadapi Debbie, Ia juga kesulitan untuk membiayai kelangsungan sekolah ini ketika semua bantuan dana terhenti. Akhirnya Debbie dengan dibantu beberapa orang murid yg telah lulus dari sekolah kecantikannya mendirikan salon di tempat yg sama dgn sekolah kecantikannya. Pagi gedung tsb digunakan untuk sekolah, siang sampai sore menjadi salon. Penghasilan yang didapatkan dari salon digunakan utk membiayai sekolah kecantikannya.
Murid-murid lulusan sekolah ini banyak yg mendirikan salon kecantikannya sendiri, ada juga yang menjadi guru di sekolah kecantikan tsb sekaligus bekerja di salon Debbie. Mereka bisa mendapatkan penghasilan yg besar melebihi penghasilan suaminya, sehingga taraf hidupnya dan keluarganya pun meningkat. Dengan memiliki penghasilan sendiri mereka jadi lebih dihargai oleh suami dan keluarganya.
Menarik skali membaca buku ini karena banyak konflik yg dialami Debbie selama di Kabul. Kita juga bisa mengetahui kebudayaan dan tradisi masyarakat Kabul, serta bagaimana kehidupan para perempuannya (yang mana hal ini membuat saya sangat bersyukur lahir dan dibesarkan di Indonesia). Kekurangannya pada penerjemahannya yg kadang kurang tepat, begitu juga dengan pengaturan paragrafnya.
Satu lagi yang menurut saya keliru, ketika Debbie mengatakan dalam suatu paragraf di bab satu:
"Akad nikah adalah surat perjanjian perkawinan yang dirumuskan menurut hukum islam. Surat perjanjian ini, lebih dari perkawinan itu sendiri, adalah apa yang membuat satu pasangan menjadi suami istri yang sah. Pada masa-masa biasa, akad nikah ditandatangani dalam rentang waktu yang cukup setelah pesta pertunangan guna memberi waktu kepada keluarga mempelai laki-laki untuk mengumpulkan sumber dana untuk keperluan mas kawin, pakaian, pesta perkawinan, dan seterusnya. Keluarga Roshanna menempuh langkah yang kurang lazim ini dengan mengizinkan dia menjadi istri sah laki-laki ini sebelum acara pernikahan dengan menandatangani akad nikah pada pesta pertunangan."
Pemahaman Debbie tentang akad nikah dalam islam jelas keliru. Dalam islam, pernikahan baru sah jika ada ijab kabul dan beberapa rukun lainnya. Menandatangani surat perjanjian saat pesta pertunangan tidak menjadikan si laki-laki dan perempuan tsb sah sebagai suami istri jika tidak terpenuhi ijab kabul dan rukun pernikahannya. Apalagi jika dikatakan bahwa surat perjanjian ini lebih dari perkawinan itu sendiri, ini jelas-jelas keliru dalam memahami hukum islam. Jika itu yang dijalankan oleh masyarakat Afghanistan maka itu mungkin adalah bagian dari tradisi mereka tetapi jelas itu tidak sesuai dengan hukum islam.
Terlepas dari hal tsb, menurut saya buku ini tetap seru untuk dibaca :D
1/06/2012
AstyNNS
Posted in


4 Response to "Buku: Kabul Beauty School"
menarik neh review. jadi pengen baca novel karya deborah ini. berbicara islam dan dunia negara ketiga selalu menarik
kebayang, bagaimana Debbie harus melanggar banyak aturan dan tradisi di kabul ya...
tapi apa yang dilakukan debbie tuh, termasuk amal jariyah kan?
makin rajin nih nge review nya, dan cepet juga ya mba. ditunggu review selanjutnya. request boleh tak? *mintadikeplak
Mas Rusydi: Yup..
Mbak Elsa: Iya Mbak Elsa rasanya malu deh, disini kita ngakunya sodara seiman tapi gak bisa berbuat apa2, sementara dia yg tidak seiman bisa berbuat banyak.
Mbak Mira: Jadi malu *lari-lari ala Film India*. Boleh request tapi hanya boleh buku anak2 yg gak nyampe 6 lembar itu ya? hihihi...
Poskan Komentar